Aku Menulis, Maka Aku Ada
![]() |
| Ilustrasi |
Sekitar tiga ratusan peserta didik baru berbaris rapi di halaman mengenakan tanda pengenal sebesar buku LKS. Hari itu menjadi hari pertamaku sekolah yang mana merupakan masa orientasi siswa, atau hari ini dikenal dengan PLS (pengenalan lingkungan sekolah).
Di hari itu juga Aku mengenal laki-laki mengesankan. Kak Raka, kami sekelompok memanggilnya. Aku termasuk di antara ratusan perempuan di sekolah yang mengaguminya.
"Kamu namanya siapa?" nada tegas laki-laki rapi berjas, menanyaiku.
"Bunga, kak" sahutku agak gugup karena memang dari tadi sudah menunggu giliran ditanyai nama.
Kak Rakalah yang menanyai kami. Ia menjadi pendamping kelompok kami. Kumis tipisnya menjadi khas pada wajahnya yang mengesankan.
Suasana PLS tidak sepenuhnya tegang. Tawa juga menjadi pelebur ketegangan ketika, Indah, teman baruku mengangkat tangan. Sebelumnya kak Raka memberi penawaran untuk bertanya kepada kami setelah ia menginformasikan kegiatan yang akan dilalui dan perangkat yang harus kami bawa besok. Kak Raka menjulurkan tangan kanannya, tepat pada Indah, mempersilahkannya bertanya.
"Kenapa kakak manis sekali?" Indah bertanya dengan gaya kedua tangan menopang kepalanya. Nadanya menggoda.
Satu kelas tertawa lepas. Aku yang di sebangku dengan Indah reflek menginjak kaki dan menabok pahanya. Jelas, suara kami terdengar sampai ruang sebelah karena tingkah Indah yang mengundang tawa. Ia menyeringai, seperti tak merasa berdosa.
*
Aku yatim piatu. Ibuku meninggal satu setelah melahirkanku. Sedangkan ayah meninggal akibat depresi dan akhirnya jatuh sakit karena belum bisa menerima kenyataan bahwa istrinya meninggal. Sejak kecil, Aku diasuh oleh paman dan bibi. Merekalah yang mengajarkan kedisiplinan.
Matahari belum memberikan kehangatannya, kicau burung menyambut hari riuh di sana-sini. Pagiku penuh dengan peluh. Membersihkan rumah, mencuci baju, belanja ke pasar, hingga membantu bibi membuat sarapan kulakukan.
"Bunga, ambilkan air cepat! Keburu gosong" suara melengking bibi ketika memasak, sudah terbiasa masuk dalam telingaku, ditangkap otak dan Aku reflek tergerak.
Setelah pekerjaan rumah selesai, kulanjutkan mandi untuk bersiap berangkat sekolah. Sebelum keberangkatanku, tidak jarang bibi titip sesuatu di toko yang kubeli sepulang sekolah.
"Tidak perlu ikut kegiatan atau perkumpulan apapun di sekolah" pesan bibiku, sepertinya seminggu sekali menghimbau. Aku dilarang ikut organisasi, les dan kegiatan positif lainnya. Baginya, membantu di rumah lebih baik dan kegiatan-kegiatan itu tidak berguna ketika di rumah.
Sepulang sekolah, Aku makan dan segera tidur, karena ada tenaga yang harus kukumpulkan untuk sore hari membantu paman mengikat sayur-sayur yang dipanen dari kebunnya. Paman adalah seorang pedagang. Dulu ia bekerja sebagai sales snack dan musibah menghentikan dirinya melanjutkan pekerjaan itu. Paman kecelakaan ketika sedang bekerja.
Malam adalah waktuku untuk belajar. Mengerjakan PR, dan pastinya membaca buku. Aku sangat menyukai novel. Setiap satu bulan sekali, Aku membeli buku dengan uang dari paman, sebagai upah karena membantunya mengikat sayur.
Sebelum tidur, Aku pastikan menulis hal-hal yang terjadi, mulai dari pagi sampai menjelang tidur. Setidaknya lima buku bersampul tebal tertata rapi di rak bukuku. Disitulah hari-hari kutulis. Di situlah kehidupanku.
*
Kring, kring, kring! Bel sekolah berbunyi tiga kali, tanda masuk jam istirahat. Seperti biasa, Aku mengunjungi perpustakaan untuk mencari buku-buku yang kubutuhkan dalam mengerjakan tugas sekolah.
Nyaris seperti di film-film, mataku menatap kak Raka dari rongga rak buku yang cukup untuk sekedar memandang kecilnya mata. Aku kaget dan berlagak tak melihat, seolah-olah sedang mencari buku ketika kak Raka secara tiba-tiba balik menatapku.
Hatiku berdegup seru, langkahnya mendekatiku. Aku berganti gaya sok membuka lembaran buku yang sedang kubawa.
"Bunga cari buku apa?" tanpa berdehem mengagetkan.
"Eh, kak Raka. Ini kak lagi cari buku Biologi" jawabku singkat. Gugup.
Kak Raka mengambil buku di sebelah kiri ia berdiri.
"Ini" menyodorkan padaku.
Aku salah tingkah. Andaikan tidak karena tertegun memandang matanya tadi, sudah pasti Aku menemukan buku ini dengan tanpa salah tingkah seperti ini.
Gugupku berkurang, jantungku tak lagi berdebar. Tiba-tiba Aku terdorong oleh tubuh yang cukup berisi. "Indah" dalam batinku, geram. Ia dari Kantin. Bukannya meminta maaf padaku, ia malah menggelayutkan kedua tangannya di pundakku. Pandangan matanya persis menatap mantap kak Raka.
"Jangan lupa hadir ya besok" ucapan terakhir kak Raka sebelum meninggalkan Aku dan Indah.
Aku membalas dengan anggukan dan senyum yang kurang tulus di antara langkah balik badan kak Raka, karena tubuh berat Indah yang dari tadi menggelayut membuat pegal pundakku.
“Lihatlah, ia meninggalkan senyum yang manis” kata Indah yang masih menatap bayang-bayang kak Raka yang sudah sejak tadi menghilang.
“Apa sih!” jawabku sebal.
Dalam hatiku, “Aku harus ikut Seminar Aksara besok”. Karena selain niat untuk menambah wawasan kepenulisan, kak Raka pasti juga di sana.
*
Ujian penentu kelulusan angkatanku tinggal satu bulan lagi. Perbincangan mengenai melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi teman-teman dan seruan dari guru-guru tentang jalur Nasional masuk Perguruan Tinggi Negeri selalu beredar. Aku sangat ingin kuliah. Menjadi guru Biologi adalah cita-citaku.
Makan malam telah usai, sebagaimana malam-malam yang lalu, paman dan bibi duduk di depan televisi. Menonton sinetron.
"Paman" seruku pelan.
Paman dan bibi tak tergerak sedikit pun. Asyik menonton.
"Paman" panggilku lebih keras. Suaraku kalah keras dengan volume televisi.
Bukan saja malam ini Aku mengutarakan keinginan untuk melanjutkan kuliah. Paman dan bibi satu pemikiran. "Tidak!". Namun malam ini lebih menghancurkan hatiku.
"Sudah berani menjawab orang tua sekarang ya?" sahut pamanku. Intonasinya tinggi.
"Mau jadi guru? Sudahlah, menjadi wanita seperti bibimu ini sudah sangat bersyukur. Jangan menjadi beban! Perempuan itu di rumah saja, tak perlu aneh-aneh. Tinggal di rumah membantu paman dan bibi, menunggu laki-laki melamarmu" seru bibiku tanpa tahu bagaimana hatiku.
Aku terdiam diserang paman dan bibi setelah Aku lontarkan kalimat bahwa Aku punya kehormatan, Aku punya kebebasan untuk berwawasan luas.
Aku tak bisa menahan tangis sekaligus tak mampu melawan mereka. Mereka berdualah yang sejak kecil mencukupi kebutuhanku. Hingga melandaskan diri di kamar, Aku masih termenung, air mataku tak lagi mengucur deras.
"Perempuan tak perlu wawasan luas!" kata-kata yang masih terngiang keras hingga Aku tertidur pulas.
*
Keseharianku selepas lulus nyaris sama sekali berbeda, kecuali kebiasaan menulis sebelum tidur. Banyak pekerjaan rumah yang tak lagi kukerjakan setelah Aku menjadi buruh pabrik roti di desa tetangga. Berangkat pagi dan pulang sore hari.
Hari minggu Aku libur bekerja. Pekerjaan rumah yang menumpuk menjadi aktivitas liburku. Selepas mengerjakan semuanya, Aku bermain gadget. Sumringah tak karuan ketika Indah, teman semasa SMA, mengirimkan pamflet lomba menulis novel se-Nasional.
Kebiasaan menulis menjelang tidur tidak lagi bertema hari-hari yang kulakukan. Pengalaman malam yang menghancurkan hati kujadikan tema novel yang sampai sekarang kugarap penuh dengan antusias. Apalagi dengan adanya lomba novel itu, Aku sungguh bersemangat untuk terus menulis. Semoga saja.
*
Semalam rumah paman begitu riuh dengan tawa dan histeris tangis bahagiaku. Aku yang sedang menunggu pengumuman itu sembari bermedia sosial reflek meloncat, berteriak.
"Aku menang, bi" memeluk bibiku yang masih penasaran dengan tingkahku.
Paman dan bibi bertatap satu sama lain. Bingung menghiasi wajah mereka berdua.
"Menang apa?" Bibi bertanya jengkel.
"Novelku bi, paman. Novelku juara satu" Aku kegirangan menjelaskan.
Malam itu Aku menjelaskan pada mereka berdua tentang apa itu novel. Sungguh malam yang membahagiakan. Melihat wajah paman dan bibi seperti melihat wajah ayah dan ibu. Sepertinya mereka juga memandang kebahagianku seperti memandang anaknya sendiri.
"Aku akan kuliah" hatiku berseru senang.
*
Sejak kemenangan novelku paman dan bibi tidak lagi mempengaruhiku tentang stereotip perempuan yang negatif yang mengakar di masyarakat. Mereka mendukungku. Akhirnya Aku dapat melanjutkan kuliah di perguruan tinggi swasta, sesuai keinginanku, jurusan Pendidikan Ilmu Biologi.
Aku sudah tidak lagi menjadi buruh pabrik. Uang pembinaan lomba novel itu selain untuk mendaftar kuliah, juga kugunakan untuk membuka usaha roti kecil-kecilan. Kini, banyak taman-taman baca dan lembaga pendidikan yang mengundangku untuk mengisi seminar bertema kepenulisan. Itu berkat novelku. Berkat Aku menulis.
Kepala sekolah SMA-ku dulu yang sekarang masih menjabat memintaku untuk mengisi pelatihan kepenulisan dengan tema tokoh dan penokohan. Acara itu akhirnya tiba. Pembukaan berjalan lancar sebagaimana biasa. Setelah kurang lebih satu jam Aku memaparkan materi, forum kukembalikan kepada moderator. Moderator menawarkan kepada peserta pelatihan untuk bertanya. Di pojok, siswi manis berdiri dan mengacungkan tangannya, isyarat ingin bertanya.
"Kak, saya sudah membaca habis novel kakak. Yang saya tanyakan siapa yang menjadi inspirasi kakak dalam menulis novel tersebut? Terimakasih"
Aku mengangkat mikrofon tepat di depan bibirku.
"Nama kamu siapa, dik?" tanyaku.
"Shinta, kak" jawabnya singkat.
Pertanyaan itu sama persis seperti saat Aku beberapa tahun lalu bertanya dalam Seminar Aksara di sekolah ini. Narasumbernya adalah penulis kondang tanah air Indonesia, Tere Liye. Jika jawaban Tere Liye waktu itu adalah sudut pandang istimewa dan daya imajinasinya, Aku berbeda.
"Saya terinspirasi oleh siswa lulusan SMA ini." jawabku tak begitu panjang.
"Kalau boleh tahu siapa namanya, kak? Dan mengapa dia menjadi inspirasi kakak?" Siswi itu lanjut bertanya karena jawabanku yang kusengaja tidak utuh.
"Soal namanya, biar kalian terka sendiri."
Wajah peserta pelatihan tampak "yaah" kecewa. Kulanjutkan berbicara diikuti antusias mereka dengan cara diam, mendengarkan.
"Kalau kenapa harus dia yang menjadi inspirasi? Jawabannya, karena dia perempuan." tambahku tersenyum.

Belum ada Komentar untuk "Aku Menulis, Maka Aku Ada"
Posting Komentar