Kanjuruhan dan Hari Kesaktian

 

kanjuruhan-dan-hari-kesaktian
Monumen Pancasila Sakti - cnnindonesia.com

            Kita tahu bahwa Pancasila dibuat bukan serta merta atau iseng saja. Dan tidak mungkin sebuah pandangan hidup, pedoman ataupun prinsip dasar warga negara dalam berbangsa dibuat main-main. Landasan hidup bernegara dibuat atas dasar falsafah negerinya dan hal itu membutuhkan proses panjang untuk menjadikan Pancasila benar-benar ideal.

            Secara historis, Pancasila sebagai philophische grondslag (dasar falsafah)-nya Indonesia hampir diganti dengan ideologi komunis oleh salah satu partai dengan gerakan yang populer di masyarakat dan menjadi momen ingatan tahunan, yakni setiap 30 September (tragedi gestapu). Karena Gerakan tersebut tak dapat menggeser Pancasila sebagai dasar negara, maka 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

            Pancasila sakti karena konteks Indonesia mendukung itu, atau lebih tepatnya, Pancasila memang berdasarkan konteks Indonesia. Korelasi dari konteks Indonesia dengan Pancasila adalah pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai luhur Pancasila memang harus menjadi motif dalam setiap ide dan gerakan, meski sulit, tapi tetap harus menjadi sebuah motivasi.

Isu aktual yang hari-hari ini ramai dibicarakan dalam warung kopi digital  (media sosial) maupun warkop sungguhan, yakni tragedi Stadion Kanjuruhan. Yang mana tragedi tersebut merenggut 131 nyawa (update per 5 Oktober). Sebagai insiden terbesar kedua di dunia, peristiwa ini sangat memilukan memang. Pasalnya juga terdapat anak-anak kecil harus meninggalkan dunia yang juga sebagai korban atas insiden itu.

Beberapa respon mengenai siapa yang salah atas kejadian ini beragam. Pertama, ada yang menyalahkan suporter. Kedua, arogansi aparat dalam mengatasi supporter. Ketiga, panitia pelaksana menjual tiket melebihi kapasitas. Dan keempat, operator liga yang menolak perubahan jadwal bermain.

Menurut penulis, “pendapat” mengenai keempat subyek yang “disalahkan” tak sepenuhnya salah, artinya semua elemen di atas memang menciptakan pola sebab akibat hingga menuai perenggutan nyawa yang tak seharusnya terjadi. Operator liga yang menolak perubahan jadwal dari yang seharusnya malam hari diganti sore hari, berdasarkan rekomendasi dari Polres setempat dengan dalih kerawanan pertandingan dua klub bola ini yang sebenarnya mempertimbangkan keamanan menimbulkan satu hipotesa yang akan terjadi, yakni kebalikan dari kata “aman” yang berarti “tidak aman”.

Kemudian syahwat keduniawian yang muncul dari panitia pelaksana karena historisitas yang melahirkan derbi antara kedua klub dengan jalan menjual tiket melebihi kapasitas. Hal ini sudah pastinya juga berdasarkan pertimbangan keamanan karena rawan terjadi kerusuhan. Dan membuka kapasitas yang over tentu berdampak pada kemungkinan kekhawatiran yang lebih besar.

Turunnya suporter ke lapangan adalah sebuah stimulus bagi aparat keamanan, yang artinya mengharuskan munculnya respon atas stimulus tersebut. Menurut hemat penulis, aparat yang mengamankan kondisi pra, proses dan pasca pertandingan sangat memiliki sensitivitas terhadap perbuatan yang mengindikasikan terjadinya kerusuhan. Dalam hal ini turunnya suporter adalah bagian dari indikator akan terjadinya kerusuhan, meski suporter hanya ingin memberikan semangat yang diwujudkan dengan mimik afirmatif pada para pemain klub tercintanya. Hanya saja aparat merespon dengan skala kaget yang tinggi; dengan menembak gas air mata, pentungan hitam ataupun jurus tendangan yang fenomenal itu.

Yang paling mendasar dibicarakan dalam media sosial adalah penggunaan gas air mata dalam mengendalikan massa (suporter) yang berakhir tidak terkendali. Sedangkan dalam peraturan FIFA, barang itu dilarang adanya, apalagi pengggunaannya. Tembakan gas air mata ke beberapa titik tribun adalah sebuah sebab, sehingga memunculkan akibat, yakni ketegangan atau kepanikan oleh para suporter untuk segera menghindari agar tidak berdampak pada mata, kulit dan stabilitas nafasnya. Apalagi dari satu tribun, pintu keluar yang dibuka kala itu hanya satu, dengan ribuan orang panik yang sama-sama ingin keluar dari ketidaknyamanan yang terjadi. Sehingga banyak orang yang ingin keluar itu berdesakan, sebagian terinjak, sebagian sesak nafas, dan itu menjadi faktor tewasnya suporter.

Tragedi ini terjadi pada 1 Oktober 2022, bertepatan pada peringatan hari Kesaktian Pancasila. Tragedi ini adalah tragedi kemanusiaan. Kemanusiaan adalah salah satu nilai dalam Pancasila yang terejawantah dalam sila “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Kemanusiaan adalah wujud persatuan yang bukan hanya karena satu bangsa. Sebagaimana yang dijelaskan dalam pidato 1 Juni Bung Karno poin kedua, yakni “internasionalisme atau kemanusiaan”. Artinya siapapun mereka, tak peduli dari bangsa mana, suku, ras, daerah, kulit putih maupun hitam ataupun (hanya) klub bola apa, manusia Indonesia dengan nilai kemanusiaannya harus “saling”; saling menjaga harkat dan martabat, menjaga hak asasi kemanusiaan dan lain-lain.

Dari tragedi ini kita mendapat pelajaran bahwa di segala kepentingan apapun yang bersifat horizontal (dengan sesama manusia), yang terpenting adalah mengedepankan kemanusiaan, bukan duniawi (materialistik), fanatisme atau kegagahan. Gus Dur lo pernah berkata bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. Yang lebih penting dari tercapainya kepentingan segelintir orang adalah tercapainya kemaslahatan bagi semua orang.

“Tidak ada sepak bola yang seharga nyawa manusia”


Belum ada Komentar untuk "Kanjuruhan dan Hari Kesaktian"

Posting Komentar