Ngapain Membaca? Nggak Penting
![]() |
| Ilustrasi |
Buat apa membaca jika tak ada
alasannya? Buat apa membaca jika tidak ada tugas kuliah? Buat apa membaca jika
hanya untuk pansos? Buat apa membaca jika orang-orang tidak membaca? Membaca hanya
mengganggu waktu senggang. Padahal kan bisa buat istirahat, bukan malah
mengoperasikan otak lagi untuk memahami kalimat-kalimat dalam buku. Jadi ngapain
membaca? Sebuah opini tak bermutu dan harus di-skip jika tidak
tertarik.
Untuk
apa kita membaca jika Indonesia adalah negara dengan tingkat literasi ke-60
dari 61 negara (riset Central Connecticut State University). Membaca
tidak benar-benar membuat kita pintar, membaca hanya membuat kita berwawasan
lebih luas dan dapat memahami sesuatu lebih utuh, tidak setengah-setengah.
Tidak ada yang menarik dari aktivitas membaca. Membaca hanya membuat fisik lelah,
karena otak yang menjadi titik utama dalam memahami isi buku, dan daripada
aktivitas fisik seperti olah raga, olah pikir benar-benar lebih melelahkan.
Jadi masih mau membaca?
Ngapain
membaca jika Indonesia sudah menempati “peringkat” ke-5 sebagai negara paling
cerewet dalam bermedia sosial di dunia (riset Lembaga independen Semiocast).
Prestasi, bukan? Masuk dalam 10 besar adalah sebuah keinginan dalam kompetisi
dan perkembangan sebuah negara, ya walaupun konteksnya “cerewet bermedia
sosial”, sih. Tapi tidak masalah, setidaknya Indonesia mendapatkan
peringkat itu, walaupun tingkat bacanya rendah yang memungkinkan terjadi miss
understanding dalam menangkap informasi-informasi di media sosial, karena
tidak memiliki daya untuk menyaring, mana berita valid dan hoax.
Data
dari UNESCO juga menyatakan bahwa persentase minat baca di Indonesia hanya
0,001 persen, yang berarti dari 1000 orang hanya 1 orang saja yang minat
membaca. Kalau dalam bahasa Jawa diistilahkan sewu siji. Data yang
sangat mengafirmasi bahwa membaca “mungkin saja” tidak penting, bukan? Wong
peminatnya sedikit kok.
Membaca
penting, bagi mereka yang haus terhadap wawasan. Kalau kita nggak haus,
kenapa harus membaca, kan? Akan lebih menyenangkan melihat postingan
teman-teman kita tentang makanan, liburan, lelucon dan sebagainya, daripada
harus membuka buku kemudian melahapnya, hanya karena ingin menambah ilmu. Lebih
baik membeli hal-hal yang lebih penting seperti outfit, peralatan
berhias dan lain-lain daripada harus membaca, walaupun membaca bukan berarti
harus membeli buku. Karena kita sudah
dapat mengakses bacaan-bacaan di internet. Apalagi Indonesia Indonesia menjadi
negara nomor 4 di dunia yang aktif menggunakan smartphone. Tapi buat
apa?
Membaca
dapat membuka pikiran kita lebih terbuka dan mampu menganalisis
fenomena-fenomena yang terjadi. Luasnya wawasan seseorang berdampak pada
luasnya jalan pikir dalam mencari solusi atas sebuah permasalahan. Membaca juga
menjadi batu loncatan untuk mengarungi dunia secara ruang dan waktu lebih jauh
tanpa harus kembali ke masa lampau atau pergi ke sebuah wilayah. Bayangkan,
kita dapat mengetahui situasi Indonesia pra kemerdekaan hanya dengan membaca
buku sejarah. Kita dapat gambaran bagaimana pahlawan Indonesia dalam melawan
penjajah. Jika rumah kita di Jawa, kita dapat mengetahui dan memahami daerah
lain terkait kondisi geografis, sosial, Pendidikan ekonomi dan budaya melalui membaca
buku. Ruang dan waktu kita arungi hanya dengan duduk manis dan membaca buku.
Tapi buat apa memahami itu semua?
Kesimpulannya,
membaca penting, bagi mereka yang peduli dengan keadaan, seperti informasi di
zaman sekarang yang bias antara mana hoaks dan mana valid. Keadaan masalah yang
harus segera mendapatkan solusi, keadaan Indonesia yang sedemikian minim minat
bacanya sehingga tergerak untuk mempromosikan kalimat provokatif agar orang
lain membaca; “baca buku menambah ilmu”, keadaan di mana sejarah harus
diketahui – “jas merah!, dan keadaan-keadaan yang lain. Kalau kamu tidak peduli dengan keadaanmu dan sekitarmu, ya ngapain membaca?
- Penulis adalah pembaca

Belum ada Komentar untuk "Ngapain Membaca? Nggak Penting"
Posting Komentar